Home » Materi Genre of Text » Narrative Text » Legend » Contoh Narrative Text “The origins of Lampung City” Beserta Terjemahannya

Contoh Narrative Text “The origins of Lampung City” Beserta Terjemahannya

Hallo guys…
Kali ini saya akan share sebuah contoh narrative text yang ceritanya sangat menarik dan penuh pesan moral. Saya yakin sobat pasti sudah paham kan tentang apa itu Narrative Text… Jika ingen penjelasan detail bagaimana Narrative Text itu, sobat bisa baca Narrative Text (Complete Explanation) , Narrative Text : Definition, Purposes, Generic Structures, Language Features .

Oke disini saya juga akan memberikan gambaran singkat apa itu narrative text. Narrative Text adalah “An imaginative story to entertain the reader” atau cerita imajinasi untuk menghibur pembaca. Misalnya, Cinderella, Snow White, Monkey and Crocodiles, Malin Kundang, The Legend of Tangkuban Prahu Montain, dst. Sedangkan jenis-jenis cerita yang tergolong dalam Narrative Text yaitu; Fable (cerita binatang, Fairly Tales (cerita peri), Folktales (cerita rakyat), Legend (legenda), Mith (mitos). Itulah sedikit gambarang mengenai Narrative Text.

Tapi kali saya tidak akan membahas narrative text secara panjang lebar. Disini saya hanya ingin share contoh narrative text. Karena semakin banyak kita membaca contoh-contoh narrative text kita akan semakin memahaminya. Kita juga akan semakin banyak koleksi cerita sehingga bisa diceritakan untuk murid-murid, atau adek-adek kita nanti.

Oke langsung saja berikut contoh narrative text tentang The origins of Lampung City beserta terjemahannya.

The origins of Lampung City

In ancient times there were four brothers called Ompung Silamponga, Ompung Silitonga, Ompung Silatoa, and Ompung Sintalaga who tried to escape from Tapanuli to the southeast. They crossed the ocean by using rafts. Then, they had been bobbing aimlessly on the sea for a couple of days so that their food supplies dwindled. Once in a while, when they discovered a land, they stopped to look for food and then continued the voyage.

Once, Ompung Silamponga fell ill. His condition was deteriorating day by day. However, he remained determined to continue the journey. Meanwhile, his three brothers were so tired that he decided to stop sailing. Suddenly, a raft appeared while bobbing near their raft. The three siblings who were healthy decided to separate ompung Silamponga. They carried his brother who was seriously ill carefully to their newfound raft and pushed, so that it was drifted away from them. Ompung Silamponga was bobbed alone with his raft. His body became weak. After a long time had been bobbing, his raft then hit a hard object. Then Ompung Silamponga was awakened. He found himself already stranded on a beautiful beach whose waves were not so huge. Somehow he felt that his body became stronger and healthier. He then walked down the beach. He found a stream with clear water around the coast. Then Ompung Silamponga thought to live in that area.

After some time living in that area, Ompung Silamponga got bored. Then, he went to explore the island. Ompung Silamponga explored a dense forest near the island. Finally, he arrived at the top of a hill with beautiful views. Then he could also know that there were people living at the foot of the hill. With a feeling of joy, unconsciously he shouted loudly, “Lappung! Lappung! Lappung!” (In Tapanuli language, lappung means “Wide”).

Shortly after that, Ompung Silamponga went down from the top of the hill and opened a new settlement there. He gave the place a name “Lappung”. In fact, a group of people who lived so left behind stayed also around the place. Ompung Silamponga established good relations with the indigenous population. The longer the area was, it developed more. Ompung Silamponga spent his life there until death.

“Lampung” is recognized to be derived from two things. First, from the words shouted by Ompung Simaponga on the hill when it was first discovered that area. Second, from a part of Ompung Silamponga name.

Asal Usul Kota Lampung
Pada zaman dahulu ada empat bersaudara bernama Ompung Silamponga, Ompung Silitonga, Ompung Silatoa, dan Ompung Sintalaga yang berusaha pergi menyelamatkan diri dari Tapanuli ke arah tenggara. Mereka menyeberangi lautan dengan menggunakan rakit. Kemudian mereka terombang-ambing tanpa arah di tengah laut berhari-hari sehingga persediaan makanan yang semakin menipis. Sesekali ketika menemukan daratan, mereka singgah untuk mencari bahan makanan dan kembali melanjutkan pelayaran.

Suatu ketika, Ompung Silamponga jatuh sakit. Kondisinya semakin memburuk hari demi hari. Namun, ia tetap bertekad meneruskan perjalanan. Sementara itu, kedua saudaranya telah begitu letih sehingga memutuskan untuk berhenti berlayar.

Tiba-tiba, terlihat sebuah rakit terombang-ambing di dekat rakit mereka. Ketiga bersaudara yang sehat itu memutuskan untuk berpisah dengan Ompung Silamponga. Mereka menggotong saudaranya yang sedang sakit parah tersebut dengan hati-hati ke rakit yang baru mereka temukan dan mendorongnya, sehingga terbawa arus menjauh dari mereka.
Ompung Silamponga terombang-ambing sendiri dengan rakitnya. Tubuhnya menjadi semakin lemah sekali. Setelah sekian lama terombang-ambing, rakitnya kemudian menghantam sebuah benda keras. Ompung Silamponga kemudian terbangun. Ia mendapati dirinya sudah terdampar di sebuah pantai indah yang ombaknya tidak begitu besar. Entah mengapa ia merasakan tubuhnya menjadi kuat dan sehat. Ia lalu berjalan menyusuri pantai tersebut. Ia menemukan sebuah sungai dengan air yang jernih di sekitar pantai tersebut. Kemudian Ompung Silamponga pun berpikir untuk tinggal di daerah itu.

Setelah beberapa waktu tinggal di daerah itu, Ompong Silamponga merasa bosan. Lalu, ia pergi menjelajahi pulau tersebut. Ompong Silamponga menjelajahi sebuah hutan lebat di dekat pulau tersebut. Akhirnya, sampailah ia di sebuah puncak bukit dengan pemandangan yang sangat indah. Kemudian Ia juga bisa mengetahui bahwa ada penduduk yang tinggal di kaki bukit tersebut. Dengan perasaan gembira, tanpa sadar ia pun berteriak dengan keras, “Lappung! Lappung! Lappung!” (Dalam bahasa Tapanuli, lappung berarti luas).

Tak lama setelah itu, Ompung Silamponga turun dari bukit dan membuka perkampungan baru di sana. Ia memberi nama tempat tersebut “Lappung”. Ternyata di sekitarnya, tinggal juga sekelompok penduduk yang hidup sangat terbelakang. Ompung Silamponga menjalin hubungan baik dengan penduduk asli tersebut. Semakin lama daerah itu semakin berkembang. Ompung Silamponga menghabiskan hidupnya disana sampai meninggal dunia.
Nama Lampung diakui berasal dari dua hal. Pertama, dari kata-kata yang diteriakkan Ompung Simaponga di atas bukit ketika pertama kali menemukan daerah itu. Kedua, berasal dari sebagian nama Ompung Silamponga.

oke, semoga pembahasan tentang contoh narrative text dan terjemahannya kali ini bisa bermanfaat untuk kita semua khusunya dalam memahami dan membuat contoh narrative text sebagai sebuah text yang wajib dikuasai dalam mempelajari bahasa Inggris. Apabila sobat masih ingin belajar bahasa Inggris dengan materi yang lain silahkan klik Menu-menu yang ada diatas. Tentang storytelling juga akan kita bahas di sini. Terimakasih, British Course pamit dulu ya, see you next time.

Terima kasih atas kunjungannya. Semoga dengan berkunjung di website British Course ini sobat bisa makin cinta bahasa inggris, dan nilai bahasa inggris sobat semakin memuaskan. Dan semoga kita bisa belajar bahasa inggris bareng dan saling mengenal. Komentar, saran dan kritik dari sobat kami harapkan demi kemajuan website ini. Thanks..
Posted in Legend and tagged as

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *